GUNUNGAN PALAWIJA DAN BREGADA KELURAHAN TIDAR SELATAN.TURUT SERTA MEMERIAHKAN GREBEG GETUK DALAM RANGKA PERINGATAN HARI JADI KOTA MAGELANG KE-1113 TAHUN 2019,
-Tradisi grebeg gethuk yang diselenggarakan setiap tahun pada Hari Jadi Kota Magelang sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Kota Magelang, Sejarah singkat tercatat, dahulu kala sebuah wilayah menjadi tempat strategis untuk transit orang-orang dari Jawa bagian timur. Mereka hendak melakukan ritual di sepanjang pegunungan Dieng sampai Sindoro. Di wilayah yang kini bernama Kota Magelang itu terjadi akulturasi budaya dan interaksi dengan warga setempat. Perekonomian di wilayah itu pun menjadi makmur. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama semenjak kedatangan gerombolan pengacau 'Kecu Brandal Rampok' yang mengusik ketenangan masyarakat. Keadaan berubah chaos, keamanan dan kestabilan terganggu.
-Lalu muncul tokoh-tokoh yang membentuk kekuatan secara mandiri. Kekuatan itu mampu membasmi para pengacau, sehingga ketenangan masyarakat dapat direbut kembali
-Melihat fenomena itu, Ratu Dyah Belitung, sang penguasa tanah Jawa kala itu, memberikan kemerdekaan kepada wilayah itu dengan membebaskan semua tanggungan upeti atau pajak. Itulah gambaran singkat sejarah Asal Usul Kota Magelang Jawa Tengah, yang dikemas dalam tarian kolosal pada puncak Perayaan HUT ke-1113 Kota Magelang di Alun-alun Kota Magelang pada hari Minggu (28/4/2019).
-Tidak kurang 230 penari, yang terdiri dari para pelajar, sanggar seni dan komunitas masyarakat terlibat dalam pagelaran megah ini. Mereka menampilkan koreografi dan musik. " Tari kolosal ini terinspirasi dari kisah yang tercatat di Prasasti Poh dan Mantyasih tentang Raja yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno, dan Kota Magelang sebagai sebuah daerah yang merdeka atau perdikan Mantyasih',
-Tari kolosal berjudul " Babad Tanah Mantyasih" ini menjadi bagian prosesi Grebeg Gethuk pada puncak perayaan HUT ke-1113 Kota Magelang. Sebelumnya dilakukan ritual di lokasi prasasti Mantyasih di Kampung Meteseh, Kacamatan Magelang Utara, Kota Magelang.
-Selanjutnya, kirab gunungan hasil bumi sebanyak 17 buah dari sejumlah kelurahan di Kota Magelang termasuk gunungan Kelurahan Tidar Selatan, masing-masing berkeliling Alun-alun lengkap dengan pasukan dan Bregada yang mengawal, Pasukan bregada Kelurahan Tidar Selatan ini terdiri dari LPM Tidar selatan, PKK Tidar Selatan, dan Tokoh Masyarakat Kelurahan Tidar Selatan.
-Sampai di Alun-alun gunungan-gunungan itu dikumpulkan bersama dua gunungan gethuk Putra dan gunungan getuk Putri, Setelah itu diadakan upacara adat Jawa dan doa bersama serta mengucapkan harapan untuk Hari Jadi Kota Magelang. Ribuan warga yang menyaksikan prosesi ini pun langsung merangsek menggrebeg dan berebut gunungan-gunungan itu.
-Adanya 2 gunungan gethuk ini mengandung makna filosofis tentang kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Kota Magelang, Sementara 17 gunungan palawija ini menggambarkan Kota Magelang yang subur dan kaya akan hasil bumi
itulah Sejarah Singkat Asal Usul Kota Magelang.
OPTIMIS
TIDAR SELATAN MAJU






Komentar
Posting Komentar